Penantian Yang Berbuah Manis

Akibat dari rusaknya mesin cuci baju bayi kotor yang harusnya dicuci pun menggunung. Padahal sejak rusak saya sudah menelepon teknisi untuk memperbaikinya. Namun dua hari berselang sejak itu teknisi yang diharapkan tidak juga datang. Setiap kali ditelepon jawabannya selalu iya, iya dan iya. Segera dan segera. Tapi mungkin pekerjaan teknisi itu juga banyak hingga dia belum sempat untuk sekedar mampir dan melihat kondisi mesin cuci tersebut.

mesin cuci baju bayi

Jika memang mesin cuci itu tidak bisa dibenarkan maka saya akan membeli mesin cuci yang baru. Pasalnya sebanyak apapun baju bayi yang dibeli tetap saja baju itu akan kurang. Dalam sehari bayi kami bisa berganti baju sebanyak lima kali bahkan lebih. Ketumpahan susulah, berkeringatlah, popoknya bocorlah, dan segala hal lainnya membuat bajunya pun harus sering diganti.

Kini sejak mesin cuci itu rusak saya belum mencuci bajunya lagi. Persediaan baju bayi kami sudah menipis. Dan mau tidak mau ada dua pilihan yang bisa kami ambil selagi menunggu teknisi itu datang. Pilihan itu adalah mencuci baju bayi tanpa mesin cuci atau membeli baju bayi baru. Tapi kiranya saya lebih condong untuk mengambil pilihan yang pertama.

Jadilah, di hari ketiga setelah rusaknya mesin cuci baju bayi kotor yang menggunung itu saya cuci semuanya menggunakan media tangan. Dan setelah semua cucian itu selesai sang teknisi pun datang. Dia bilang masalah kerusakan mesin cuci itu bisa tertanggulangi. Dalam hitungan jam mesin cuci itu sudah jalan kembali. Untunglah saya tidak usah membeli mesin cuci yang baru dan besok-besok saya tidak usah repot lagi mencuci baju bayi dengan tangan.

Belum ada Komentar untuk "Penantian Yang Berbuah Manis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel